
SBY mengeluh, betapa dirinya sering dizalimi media, baik sebagai
presiden maupun sebagai pemilik Partai Demokrat. Di mata SBY, media
tidak fair dalam menilai kinerja pemerintahan yang dipimpinnya; demikian
juga dalam menilai penampilan partai yang dikomandoinya. SBY merasa
tidak beruntung karena tidak punya media.
Pada kesempatan lain, Wiranto tampak sumringah menyambut kedatangan
Hary Tanoesoedibjo. Bergabungnya Hary Tanoe ke Partai Hanura membuat
Wiranto dkk bangkit kepercayaan dirinya menghadapi Pemilu 2014. Padahal
sebelumnya, mereka sudah ketir-ketir atas prediksi beberapa lembaga
survei: Hanura akan jadi korban pertama ambang batas 3,5% bersama PKB.
Bukan massa atau jaringan organisasi jebolan Nasdem yang membuat
Wiranto dkk bergembira; juga bukan uang yang dibawa Hary Tanoe. Tetapi
komitmen melakukan serangan udara untuk meningkatkan kemampuan Hanura
dalam meraih suara. Yang dimaksud serangan udara tidak lain adalah
pemanfaatan media yang dimiliki Hary Tanoe untuk mengampanyekan Wiranto
dan Hanura.
Inilah kontras yang terjadi pada waktu hampir bersamaan. Dua
pensiunan jenderal, dua pimpinan partai politik, dalam dua situasi yang
berbeda: SBY merasa telah dirugikan oleh media, Wiranto merasa akan
diuntungkan oleh media; SBY menyesal tidak memiliki media, Wiranto dapat
berkah tiba-tiba "memiliki" media.
Soal media ini, sebetulnya SBY tidak pernah berterus terang.
Sesungguhnya yang dia keluhkan bukanlah media secara umum, melainkan
televisi, tepatnya kepemilikan stasiun televisi. Sebab, kalau dia
menyesal tidak memiliki media secara umum, sebenarnya tidak tepat. Dia
memiliki www.presidensby.info yang terkelola baik; Partai Demokrat juga
memiliki koran Jurnal Nasional yang terbit setiap hari.
Radio memang SBY tidak punya. Tetapi dari sisi pengaruh publik, yang
paling disesalinya tentu saja karena tidak memiliki stasiun televisi.
Ini bisa dimengerti, karena orang awam pun merasakan bahwa MetroTV dan
TvOne lebih sering mengkritik dan menyerang SBY dan Partai Demokrat jika
dibandingkan dengan media lain.
Awam pun paham, karena kedua televisi itu adalah milik Surya Paloh
dan Aburizal Bakrie, yang tidak lain adalah lawan-lawan politik SBY.
Tentu saja siaran Metro TV dan TvOne tak hanya mempromosikan Surya Paloh
dan Aburizal Bakrie, tetapi juga mengampanyekan Partai Nasdem dan
Partai Golkar. Inilah yang disesali SBY.
Sebentar lagi penyesalan SBY bisa bertambah dalam, setelah Wiranto
dan Hanura menjadi digdaya melalui serangan udara yang dilancarkan Hary
Tanoe. Ya, karena mereka akan memanfaatkan MNC Grup milik Hary Tanoe
untuk berkampanye. Kekuatannya bisa dahsyat karena MNC Grup memiliki
lebih banyak stasiun televisi: RCTI, Global TV, MNC TV, dan Indovision
network.
Tetapi, jangan dulu terbawa kegalauan SBY. Jangan-jangan dia lebay
saja: minta dikasihani karena telah dan akan dizalimi para pemilik
televisi. Sebab, kalau kita lacak ke belakang, SBY sesungguhnya juga
leluasa memanfaatkan televisi untuk berkampanye. Dia memang tidak
memiliki sendiri stasiun televisi, tetapi pengaruhnya cukup membuat
pemilik Trnas TV dan Trans7 untuk menyiarkan apapun yang dikehendakinya.
Nah, jika siaran televisi sudah dikapling-kapling seperti itu, lalu
apa artinya frekuensi milik negara, apa makna frekuensi digunakan untuk
kepentingan publik. Tidak cukuplah kalau hanya menyalahkan pemilik
televisi, jika para pembuat dan pelaksana kebijakan diam saja, pura-pura
tidak tahu ada masalah besar dalam dunia pertelevisian kita.